BAB I
PENDAHULUAN
Keberhasilan pembangunan suatu
bangsa, sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia, karena manusialah
yang merupakan aktor utama dalam pembangunan. Contoh konkret yang dapat kita
lihat sekarang bahwa 70% tenaga kerja Indonesia masih berpendidikan sekolah
dasar atau kurang.
Kondisi sumber daya manusia seperti ini sangat sulit mendukung
pembangunan pertumbuhan ekonomi baik secara sektoral maupun nasional. Cukup
bukti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin besar peluang
untuk lebih mampu berperan serta dalam pembangunan, sebagaimana hasil studi
yang dilaksanakan oleh UNESCO (1998), yang menyimpulkan bahwa: “… education
especially basic education can make significant contribution to poverty
eradication and enhancement of quality of life“. Selanjutnya UNESCO dalam
bukunya yang berjudul “Human development is a process of enlarging people’s
choices. Three essentials areas are for people to lead a long and healthy life,
to acquire knowledge and to have access to a source needed for a decent
standard of living”, di sini kita diingatkan bahwa pendidikan (pendidikan
dasar utamanya) pada hakikatnya harus memberi kesempatan kepada setiap orang
agar mereka memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.
Ada tiga prinsip yang harus
diperhatikan, yaitu membantu mereka agar memiliki umur panjang dan hidup sehat,
mendapatkan pengetahuan, dan memiliki akses untuk dapat memenuhi standard
kehidupannya secara layak. Ini berarti bahwa sebenarnya pendidikan, utamanya,
pendidikan dasar bukannya hanya untuk mereka yang berusia sekolah saja, mereka
yang berusia di luar usia sekolah yang karena berbagai hal tidak berkesempatan
memperoleh pendidikan berhak pula untuk mendapatkannya.
Jalur pendidikan luar sekolah
menyadari sepenuhnya akan hal tersebut di atas. Sebagai realisasinya, semenjak
tahun 1977 telah diselenggarakan Program Paket A, kemudian pada tahun 1994,
dikembangkan menjadi Program Paket A setara SD, serta pada tahun yang sama pula
dikembangkan Program Paket B setara SLTP. Semua ini merupakan upaya untuk
memberikan pelayan pendidikan kepada masyarakat sehingga paling tidak semua
penduduk negeri ini memiliki pendidikan serendah-rendahnya pendidikan dasar (SD
dan SLTP), seperti amanat dari kebijaksanaan pemerintah dalam Wajib Belajar
Pendidikan Dasar (9 tahun)
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Metode Pendidikan Luar Sekolah
Metode secara harfiah berarti “cara”. Secara umum, metode
diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan
tertentu. Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau
prosedur yang dipergunakan oleh fasilitator dalam interaksi belajar dengan
memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan kata
“mengajar” sendiri berarti memberi pelajaran.
Berdasarkan pandangan di atas dapat dipahami bahwa metode
mengajar pendidikan luar sekolah merupakan cara-cara menyajikan bahan
pelajaran oleh pendidik kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Metode itu sendiri merupakan salah satu sub system dalam sistem
pembelajaran, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja [1].
2)
Jenis-Jenis Metode Pendidikan Luar Sekolah
A. Metode Ceramah (Preaching Method)
Metode
ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan
pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti
secara pasif. Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang
paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam
mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya
beli dan paham siswa.
B. Metode diskusi ( Discussion method )
metode
diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan
masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi
kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation )
C. Metode demontrasi ( Demonstration method )
Metode
demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian,
aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun
melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau
materi yang sedang disajikan.
D. Metode ceramah plus
Metode
ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode,
yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan
menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu :
E. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT).
Metode
ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan
pemberian tugas.
Metode campuran ini
idealnya dilakukan secar tertib, yaitu :
1). Penyampaian materi oleh guru.
1). Penyampaian materi oleh guru.
2). Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan siswa.
3). Pemberian tugas kepada siswa.
F. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode
ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu
pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan
akhirnya memberi tugas.
G. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan
(CPDL)
Metode
ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran
dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill)
H. Metode resitasi ( Recitation
method )
Metode
resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume
dengan kalimat sendiri .
I. Metode percobaan ( Experimental
method )
Metode
percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau
kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan.
3)
Prinsip-Prinsip Memilih Metode Pendidikan Luar Sekolah
Prinsip-prinsip
memilih metode antara lain:
1. Efektif dan efisien.
2. Digunakan secara bervariasi.
3. Digunakan dengan memadukan beberapa metode.
1. Efektif dan efisien.
2. Digunakan secara bervariasi.
3. Digunakan dengan memadukan beberapa metode.
Efektif dan efisien harus selalu
dipikirkan dalam penggunaan metode karena untuk supaya tidak terjadi pemborosan
waktu maupun biaya dalam pembelajaran. Sedangkan variasi dan pemaduan
penggunaan sangat menguntungkan karena untuk megurangi kebosanan, dan
memudahkan peserta didik dalam mencapai dalam tujuan pembelajaran. Karena
masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangannya[2].
4.) Faktor-Faktor Memilih Metode
Pendidikan Luar Sekolah
Factor-faktor
yang perlu di perhatikan dalam menentukan metode pembelajaran, antara
lain:
1. tujuan pembelajaran
1. tujuan pembelajaran
Tujuan
pembelajaran adalah hasil yang diharapkan/ hal yang diingin dicapai
dalam
pembelajar.
2. kemampuan pendidik
2. kemampuan pendidik
Kemampuan
pendidik atau kompetensi pendidik adalah kemampuan pendidik dalam
menyampaikan
mate dalam menyampaikan materi pembelajaran.
3. kemampuan peserta didik
Kemampuan
peserta didik adalh sejauh mana peserta didik dapat memahami materi yang
disampaikan
pendidik.
4. jumlah peserta didik
4. jumlah peserta didik
Jumlah
peserta didik adalah jumlah keselurahan peserta didik dalam satu kelas, agar
peserta
didik
dapat memahami materi pelajaran.
5. Jenis materi
5. Jenis materi
Jenis
materi adalah macam-macam materi yang disampaikan oleh pendidik
6. Waktu
6. Waktu
Waktu
berkaitan dengan lamanya kegiatan pembelajaran dan kapan kegiatan itu
berlangsung.
7. fasilitas yang ada.
7. fasilitas yang ada.
Fasilitas
adalah alat-alat yang digunakan dalam proses belajar-mengajar.
5.
Tahap-tahap Metode Pendidikan Luar Sekolah
Tahap-tahap Metode Pendidikan Luar Sekolah
Metode pembelajaran dalam implementasinya memiliki fase-fase
/ tahap tertentu. Secara garis besar dalam satu proses interaksi belajar,
metode pembelajaran dikelompokkan menjadi empat fase utama, yaitu fase pendahuluan,
fase pembahasan, fase menghasilkan dan fase penurunan.
Fase pendahuluan; dimaksudkan untuk menyusun dan
mempersiapkan mental set yang menguntungkan, menyenangkan guna pembahasan
materi pembelajaran. Dalam fase ini fasilitator dapat melakukan kaji ulang
(review) terhadap pembahasan sebelumnnya dan menghubungkan dengan pembahasan
berikutnya.
Fase pembahasan dimaksudkan untuk melakukan kajian,
pembahasan dan penelahaan terhadap materi pembelajaran. Dalam fase ini, peserta
didik mulai dikonsentasikan perhatiannya kepada pokok materi pembahasan. Dalam
fase ini perlu dicari metode yang cocok dengan tujuan, sifat materi, latar
belakang peserta didik dan guru.
Fase menghasilkan tahap penarikan kesimpulan bedasarkan dari
seluruh hasil pembahasan yang berdasarkan pengalaman dan teori yang
mendukungnya[3].
Fase penurunan
dimaksudkan untuk menentukan konsentrasi peserta didik secara berangsur-angsur.
Ketegangan perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran perlu secara
bertahap diturunkan untuk memberi isyarat bahwa proses pembelajaran akan
berakhir.
6).
Prinsip-prinsip Metode Pendidikan Luar Sekolah
Prinsip-prinsip dalam menggunakan
metode pembelajaran:
1. pembelajaran langsung
Pembelajaran langsung sangat diarahkan oleh guru. Metode yang cocok antara lain: ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan drill.
2. Pembelajaran tidak langsung
Sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Strategi ini berpusat pada peserta didik. Metode yang cocok digunakan antara lain: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah, peta konsep.
3. Pembelajaran interaktif
Menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik, maka metode yang cocok antara lain: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau projek, kerja berpasangan.
1. pembelajaran langsung
Pembelajaran langsung sangat diarahkan oleh guru. Metode yang cocok antara lain: ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan drill.
2. Pembelajaran tidak langsung
Sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Strategi ini berpusat pada peserta didik. Metode yang cocok digunakan antara lain: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah, peta konsep.
3. Pembelajaran interaktif
Menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik, maka metode yang cocok antara lain: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau projek, kerja berpasangan.
4. Pembelajaran mandiri
Merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam merencanakan dan memacu belajarnya sendiri. Dapat dilaksanakan sebagai rangkaian dari metode lain atau sebagai strategi pembelajaran tunggal untuk keseluruhan unit. Metode yang cocok antara lain: pekerjaan rumah, karya tulis, projek penelitian, belajar berbasisi komputer, E-learning.
Merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam merencanakan dan memacu belajarnya sendiri. Dapat dilaksanakan sebagai rangkaian dari metode lain atau sebagai strategi pembelajaran tunggal untuk keseluruhan unit. Metode yang cocok antara lain: pekerjaan rumah, karya tulis, projek penelitian, belajar berbasisi komputer, E-learning.
5. Belajar melalui pengalaman
Berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Metode yang cocok antara lain: bermain peran, observasi/survey, simulasi.
Berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Metode yang cocok antara lain: bermain peran, observasi/survey, simulasi.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pndidikan luar
sekolah mempunyai bentuk dan pelaksanaan
yang berbeda dengan system yang sudah ada di pendidikan sekolah.
Pendidikan luar sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana
kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada pendidikan persekolahan / pendidikan
formal saja. Pendidikan luar sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada
pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu.Pembinaan dan
pengembangan PLS dipandang relevan untuk bias saling mengisi atau topang
menopang dengan system persekolahan. Agar setiap lulusan bisa hidup mengikuti
perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan
perkembangan IPTEK yang semakin maju.
No comments:
Post a Comment